Surat dari Seorang Sahabat :)

Assalamu’alaikum. WR. WB

Dengan cinta,

Sahabatku yang insyaAllah selalu dicintai Allah,
aku begitu mencintai kalian. Aku begitu menyayangi kalian sehingga aku mengirimkan surat ini.
Aku begitu mencintai kalian karena Allah. Maka, aku melandaskan persabatan kita, dengan landasan yang Allah buat.
Seorang sahabat bukan hanya orang yang sedih bila kita sedih, gembira ketika gembira, dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. Tapi sahabat juga merupakan seseorang yang menasihati kita kala kita salah dan mendukung kita ketika kita ingin berbuat baik.

Sahabatku yang insyaAllah selalu dalam rahmat-Nya,
mungkin, hubungan kita sudah pada taraf sedih ketika kita sedih, gembira ketika kita gembira, dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita.
Tapi, aku selalu berpikir, ada yang kurang dari persahabatan ini. Aku melihat ada yang kurang ketika kita bertemu, ketika kita mengobrol, dan lainnya.
Setelah aku berpikir lama, aku menemukan suatu hal tersebut, kita kurang, kita kurang saling menasihati kala kita salah dan mendukung ketika kita ingin berbuat kebaikan.
Lama aku berpikir, lama aku merenungi, lama aku menetapkan hati untuk memulai.
Sekarang, ya, sekarang menurutku adalah waktu yang tepat untuk memulainya. Karena aku ingin, kita menjadi sahabat yang sesungguhnya.

Sahabatku yang insyaAllah selalu dalam naungan hidayah-Nya,
mungkin kalian berpikir, kalau aku berubah, bukan seperti aku yang dulu. Tapi ketahuilah, yang berubah dari diriku hanya keinginan untuk mempererat tali persahabatan kita, tali persaudaraan kita dengan saling menasihati.
Mungkin kalian berpikir, kalau aku tambah alim. Bukan. Itu salah. Karena, apa yang selalu aku ungkapkan kepada kelian tentang perubahanku sekarang adalah benar. Perubahan yang aku sesali tapi sulit untuk diubah kembali.
Mungkin kalian berpikir ketika membaca surat ini untuk memutuskan hubungan persahabatan kita. Tapi, ketahuilah sahabatku, aku menulis ini setelah hampir gila memikirkannya. Aku menulis ini setelah menangis karena takut hubungan kita berubah.
Tapi, ketahuilah sahabatku, aku rela kalain benci, aku rela kalian jauhi, asalkan aku telah melaksanakan tugasku sebagai sahabat.

Sahabatku yang insyaAllah selalu dikabulkan do’a dan impiannya,
aku bersyukur sekali ketika mengetahui, perubahan kalian setelah keluar dari alkahfi, hampir sama denganku. Paling hanya kerudung yang memendek, kadang-kadang pergi mengenakan celana, dan perubahan akhlak kita yang agak, yah, menyimpang.
Aku akui sahabatku, aku pun berubah begitu. Sekarang, kerudungku tidak sepanjang dulu, dan aku kemana-mana mulai memakai celana walaupun masih memakai kaos kaki karena aku berpikir, kaki adalah bagian dari aurat (ya kan?), dan sekarang, aku mulai menuntut kebebasanku yang telah terkurung lama di penjara suci.
Tapi aku berpikir, perubahan seperti ini masih layak. Kita masih menutup aurat dan menjaga agar tidak menyimpang ke arah yang sangat buruk kan?
Saat awal-awal kita berpisah, awalnya, aku senang-senang saja mendengar kalian melupakan syafiq, freezy, SNAQ dan said. Karena aku berpikir, toh, para lelaki itu sudah tidak satu sekolah, biarlah kalian menemukan yang lain dan tidak larut dalam kerinduan yang dalam kepada mereka.
Namun, lambat laun, aku menemukan sebuah kesalahan. Dari cerita kalian, aku menangkap, dari salah satu kalian, ada yang pacaran dan HTS. Awalnya aku biasa saja dan memendam ketidaksukaanku. Karena aku pikir, biarlah kalian senang dan biarlah aku sendiri yang menjadi orang yang sangat tidak suka pada pacaran dan bentuk lainnya.
Tapi ternyata, lama kelamaan, aku baru sadar kalau yang aku lakukan itu salah. Seharusnya, aku mengingatkan. Bukan membiarkan.
Namun, kalau presepsiku salah tentang pacaran, HTS dan sebagainya, maafkan aku. Dan jadikanlah surat ini sebagai renungan.
Bagi yang tidak pacaran, HTS, dan apapun itu, jadikanlah surat ini sebagai pengingat dan renungan.
Tanggal 24 Mei lalu, aku melihat surat yang diberikan oleh seorang kakak kelasku untuk teman-temannya, begini tulisannya,

“Semakin kita dewasa, semakin banyak macam orang yang kita temui.
Tidaklah mustahil jika suatu ketika ada satu laki-laki datang kepada kita, untuk mengikat kita, tapi bukan sebagai isteri.
Pacar, HTS-an, mengetake kita, apapun itu.

Jika kamu pikir dia adalh laki-laki yang shaleh, ketahuilah bahwa orang shaleh tidak akan mendahului ketentuan Allah, untuk mencoba-coba berpasangan, sebelum ia bertemu dengan jodohnya.
Sebelum ia betul-betul berpasangan dengan seorang perempuan, di atas janji suci, di hadapan Allah.

Jika kamu pikir dia adalah laki-laki yang baik, ketahuilah bahwa orang yang baik tidak akan menodaimu, dengan zina yang ia torehkan kepadamu.
Orang yang baik pasti tidak akan membiarkan dirimu berhubungan dengannya, agar kamu tetap mempunyai hati yang bersih.

Jika kamu pikir dia adalah laki-laki yang dewasa, ketahuilah bahwa orang yang dewasa adalah orang yang berani bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
Orang yang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, tidak hanya kepada dirinya dan dirimu saja. Tapi juga kepada Allah Azza wa Jalla.

Jika kamu pikir dia adalah laki-laki yang pengertian, ketahuilah bahwa orang yang pengertian seharusnya terlebih dulu mengerti akan kedudukannya sebagai makhluk Allah.
Bahwa kewajibannya untuk mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, bahkan tidak mendekati apa yang menurutnya syubhat, ya, seperti menjalin hubungan denganmu itu.

Sulit untuk istiqamah, sulit untuk menghindari itu semua.
Tapi semua ini kita nikmati dengan indah, apabila kita tetap ingat bahwa Allah satu-satunya kekasih kita.

Create by Hamida Amalia
typewritten by Nurwenda Amini”

surat tersebut tidak aku ubah sama sekali. Ketika aku membaca surat tersebut, aku baru merasakan kalau aku harus mengatakan pada kalian semua kalau jujur saja, aku tidak suka perubahan kalian dalam hal tersebut. Kalian tahu? Dulu, aku masa bodo akan hal persaan. Toh, kami hanya menyukai lawan jenis. Dan itu wajar. Sampai sekarang, aku masih berpikir kalau itu wajar. Tapi, hal tersebut menjadi tidak wajar dan harus dihentikan ketika kita menjadi mendekati zina. Dan kalian jelas sangat mengerti apa itu mendekati zina, zina, dan hukumannya. Karena kita satu sekolah dan mendapatkan hal yang sama dulu.
“Dan janganlah kamu mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ :32)
Sekarang, aku ingin kalian tahu, kenapa aku sampai sekarang bisa menyukai Ismail. Sebenarnya, aku ingin menyembunyikan hal ini seorang diri. Tapi, begitulah sahabat. Ujung-ujungnya pasti tidak tahan untuk memberi tahu.

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula). Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula)…” (An-nur:26)
dengan ayat itu, aku melihat kalau aku tidak cocok, sangat tidak cocok dengannya. Jadi, aku berpikir, mungkin lebih baik aku melupakannya.

Sahabatku yang insyaAllah selalu dalam lindungan Allah,
dari surat ini, aku tidak bisa langsung berharap kalian menjaga jarak dengan lelaki dan memutuskan pacar. Tapi, aku berharap kalian bisa merenungi makna dalam surat ini.

Karena, tanpa rasa cinta dan persaudaraan dalam hatiku, aku tidak akan menulis surat yang panjang lebar dan rela membuang waktu serta tenagaku. Tapi sahabat, aku menyayangi kalian, aku mencintai kalian karena Allah. Aku mnganggap kalian sebagai bagian dari keluargaku.
Aku harap, kalian bisa mengerti maksudku.
Maafkan aku kalau kata-kata yang kutulis membuat kalian tersinggung dan membenciku. Tapi sahabat, aku berterima kasih atas kesediaan kalian membaca tulisan ini. Dan aku berterima kasih atas persahabatan yang kalian berikan padaku.

Aku juga berharap, kalau aku melakukan kesalahan, tegurlah aku. Karena aku berpikir, teguran dari sahabat, adalah bukti keeratan persahabatan. Dan senyum ketika ditegur sahabat adalah bukti bahwa persahabatan kita bertambah erat.

Do’aku untuk kita semua,
semoga kita kelak mendapat seseorang yang terbaik.
Semoga cita-cita, impian dan harapan kita terkabul.
Semoga, kita dan keluarga kita menjadi orang yang baik dan dimudahkan dalam berbuat kebaikan. Semoga kita semua naik kelas ke kelas tiga dan lulus dari SMA dengan nilai yang baik, serta dimasukkan ke universitas-universitas pilihan dan impian kita.
Semoga, persahabatan kita, tetap erat dan semakin erat sampai kita dipisahkan oleh ajal.
Semoga, kita dapat bertemu lagi dan bercanda tawa lagi.
Semoga rasa sayang dan cinta yang tumbuh dalam hati kita, membuat kita bertambah cinta pada Allah dan sesama.
Semoga kita dapat menjadi generasi rabbani dan generasi penerus bangsa yang dapat menunjukkan pada dunia kehebatan islam.
Semoga, kita dapat memajukan bangsa kita, islam, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semoga kita dapat mengaplikasikan apa-apa yang telah kita dapatkan di sekolah kita dengan baik.
Semoga hari ini bisa lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.
Semoga kita diselamatkan dari api neraka, dimasukkan ke dalam jannah-Nya dan mendapat syafa’at dari Rasulullah.
Semoga, ilmu kita tidak sia-sia.
Semoga persahabatan kita diridhai Allah.

Amin…

Dengan cinta yang insyaAllah diliputi keridhaan-Nya

Wassalamu’alaikum

Shofiyah dan Azmi

sahabat kalian

Published in: on 29 Mei 2010 at 6:30 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: http://akkopunya.wordpress.com/2010/05/29/surat-dari-seorang-sahabat/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: